
Pernah dengar tak? “Sabarlah, tentu ada hikmah di sebalik apa yang berlaku…”
Sebagai umat Islam yang beriman dengan yang 6 tentu cukup jinak dengan ayat ini. Mudah disebut bukan? H-I-K-M-A-H. Namun apakah kita benar-benar bisa melihat, memahami dan menafsirkan hikmah-hikmah terhadap sesuatu kejadian mahupun penciptaan? Melihat, memahami mahupun menafsirkan hikmah tidaklah semudah menyebutnya.
Apa itu hikmah?
Maksud Hikmah Dari Segi Bahasa
Berasal dari perkataan ( (حكم [ha-ka-mun] yang membawa maksud kebijaksanaan. Ianya adalah kalimah mufrad (tunggal) dan hikmah itu kalimah jamak. Ini hanya maksud dari segi bahasa.
Maksud Hikmah Dari Segi Istilah Ulama dan Ahli Falsafah Barat
Hikmah adalah ibu kepada segala fadhilat (kelebihan). Sebahagian ahli falsafah akhlak telah bersepakat berpendapat ”sesungguhnya hikmah itu asal setiap fadhilat daripadanya yang terbit kesemuanya kembali kepadanya”
Pendapat Dari Ahli Falsafah Barat
Socratus menyebut sesungguhnya hikmah itu penghabisan ilmu dan penyempurnaan pengetahuan.
Plato pula meyebut penguasaan hubungan kekuatan di atas kekuatan kemarahan dan kekuatan nafsu.
Dua pendapat dari ahli falsafah barat ini sangat-sangat bersalahan dengan apa yang disebut oleh ulama dan ahli falsafah Islam.
Pendapat Dari Ulama dan Ahli Falsafah Islam
Ibnu Makawih menyebut dalam kitabnya ”Tahzibul Akhlaq”: Adapun Hikmah itu adalah kelebihan diri yang berakal yang boleh membezakan.
Hikmah Penciptaan Manusia
Allah SWT telah menyebutkan dengan jelas dalam firmanNya:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepadaKu. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan”
(Az-Zariyat, 51 : 56-57)
Seterang-terang siang yang panas terik, begitu juga terang dan jelasnya ayat ini yang menerangkan hikmah kewujudan kita di muka bumi yang berbentuk perhambaan diri dalam melakukan apa sahaja bentuk perintah suruhan Allah.
”Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) Karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah Telah memberi Taubat kepadamu Maka Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Mujadilah, 58 : 13)
Tetapi tidak pula Allah membebani manusia dengan kemestian-kemestian yang banyak dan tidak tertanggung untuk kita melakukan pengabdian. Benarkah?
”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."”
(Al-Baqarah, 2 : 286)
Justeru, marilah kita bersama-sama memuhasabah diri mengingati kembali dosa-dosa yang telah lalu ibarat debu-debu yang berterbangan dibawa angin lalu. Mampukah kita menangkap kembali debu-debu halus itu?
”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."”
(At-Tahrim, 66 : 8)
Moga-moga kita tergolong di dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sekian sahaja peringatan daripada teman buat teman.
~akan ku pastikan Kau di hatiku, akan ku korbankan semuanya untukMu. Izinkan aku terus berada dalam cinta ini ya Robbul ‘Izzati…ameen



0 comments:
Post a Comment